Mereka berkata: Kasihan orang yang tidak paham Bahasa Inggris, nanti kesulitan memahami ucapan manusia.
Dan aku berkata: Kasihan orang yang tidak memahami Bahasa Arab, akan kesulitan memahami ucapan Rabbnya manusia.
Sumber: Sofyan Chalid
Ukhuwah Cinta
Minggu, 22 Maret 2015
Sabtu, 24 Januari 2015
Akhlakmu Perhiasanmu
Aklahkmu
Ialah Perhiasanmu
Berbicara tentang kelembutan dakwah dalam islam
pasti tak luput dengan namanya Akhlak. Lemah lembut dalam islam bukan berarti
islam itu tidak ada ketegasan. Tetapi sebisa mungkin islam mengajarkan kita
untuk adil menyikapi suatu masalah, haruskah dengan tas atau dengan lembutlah
kita menyikapinya. Tentang akhlak, sudah banyak orang mengetahui betapa
pentingnya akhlak di dalam kehidupan bermasyarakat. Ibarat sebuah mobil atau
motor yang sedang melaju dijalanan, semua hal yang akan terjadi tergantung pada
pengemudinya. Nah, pengemudi tersebut ibarat
kata adalah akhlak kita, jika pengemudinya tak karuan, ugal-ugalan otomatis
akan lebih banyak menanggung resiko di perjalanan, begitupun akhlak kita
dimasyarakat sekaya apapun orang jika akhlaknya buruk maka masyarakat akan
banyak yang tidak suka padanya, seberapapun tinggi pendidikan seseorang jika
akhlaknya buruk maka tak akan berguna di masyarakat, begitupun dengan orang
yang berilmu atau seorang ulama jika dia berakhlak buruk maka tidak manfaatlah
ilmu tersebut. Islam dan akhlak adalah sesuatu yang tidak terpisahkan, bisa
dipastikan jika di baik dalam keislamannya pasti baik pula akhlaknya dan
begitupun sebaliknya jika orang buruk akhlaknya maka hal ini adalah tidak
terlepas dari buruknya pemahamannya terhadap islam.
Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).
Akhlak zaman jahiliah
dahulunya sangatlah kejam dimana bayi perempuan dikubur hidup-hidup, perzinaan
meraja lela, sesembahan berhala menjadi rutinitas ibadah mereka, meminum khamr
dan masih banyak maksiat-maksiat yang tersebar dimasa tersebut. Sungguh zaman
yang penuh dengan kegelapan dan akhirnya islam membawa zaman jahiliah tersebut
menjadi zaman yang penuh dengan keindahan akhlak Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam yang kini sudah jarang kita lihat keindahan akhlak dalam
islam ini. Agama ini sangat mengajarkan kita untuk selalu berakhlak baik, entah
kepada siapapun itu, jangankan kepada manusia dengan hewanpun kita dituntut
untuk berbuat baik padanya.
Eratnya ilmu dengan
akhlak
Zakariya Al-Anbari rahimmahullahu
berkata, “Ilmu tanpa adab tak ubahnya api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu
laksana ruh tanpa jasad.”(Akhlak ulama salaf dalam bergaul, Hal. 5)
Ilmu dan akhlak keduanya sangat penting dalam
jiwa dan kehidupan kita sehari-hari namun perlu diketahui bahwa bagaimanapun
juga akhlak itu kedudukannya lebih tinggi dari ilmu, salah
satu contoh saja jika seseorang punya ilmu yang teramat sangat tinggi tak ada
arti sama sekali jika akhlaknya nol besar mau dibawa kearah yang mana ilmu itu.
Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhias dengan sifat Akhlakul
karimah karena ia merupakan bagian dari sifat-sifat yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Bukan berarti pula kita hanya berakhlak baik
saja tetapi tidak berilmu hal ini juga tidak disukai oleh Allah Ta’ala. Dengan
akhlakul karimah pula merupakan sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci
kebaikan dan keutamaan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki akhlakul karimah,
maka ia tidak akan bisa meraih berbagai kebaikan dan keutamaan. Diantara
keutamaan yang paling agung adalah seperti yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dalam sebuah
hadist.
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam
timbangan seorang mukmin pada hari Kiamat daripada akhlak yang baik dan
sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” (HR.
Tirmidzi, derajat: shahih)
Ilmu adalah sebuah bongkahan permata di dasar laut, sedangkan
akhlak adalah pancaran keindahannya. Ketika sebuah permata tersebut kehilangan
pancaran keindahannya, bagaimana mungkin perhiasan tersebut menarik hati
manusia untuk memilikinya apalagi permata tersebut di dalam laut. Begitupun
sebaliknya, pancaran keindahan tanpa berwujud dalam intan permata adalah
fatamorgana yang hanya indah dalan mata manusia, sekejap akan lenyap dengan
satu kerdipan mata. Sebagaimana manusia padahal ilmu itu tersimpan di dalam
dada mereka, jika tanpa akhlakul karimah tak akan sampailah dakwah itu di hati
manusia, pun jika mereka punya akhlakul karimah tapi tidak memiliki ilmu sama
saja kebaikannya adalah semu belaka.
Perhatian
ulama salaf terhadap akhlak
Imam Sufyan ats-Tsauri berkata “Mereka tidak menyuruh/mengirimkan
anak-anak mereka untuk menuntut ilmu, hingga mereka mempelajari adab dan
beribadah selama 20 tahun”. Beliau juga mengatakan, “Adab itu 2/3 ilmu.” (Adab
dan Akhlak Penuntut Ilmu,
Hal. 30)
Begitupun kisah dari Ali
bin Al-Madini yang mengakui bahwa banyak orang yang hadir dimajelis Yahya bin
Sa’id Al-Qathan, mereka semua tidak bermaksud mendengar banyaknya ilmu, akan
tetapi hanya ingin melihat dan belajar akhlak dan adab darinya. (Akhlak
ulama salaf dalam bergaul, Hal.6)
Tidak dapat dipungkiri
kembali, bahwasannya kaum muslimin terdahulu banyak sekali mengambil manfaat
dengan melihat dan memandang para ulamanya semasa mereka, oleh karena itu
banyak dari kalangan mereka menjadi pribadi yang beradab. Bahkan karena akhlak
pulalah dakwah islam menjadi menggema dimana-mana, sampai-sampai banyak orang
yang datang dari jauh hanya untuk melihat bagaimana akhlak ulama pada semasanya
dan nantinya hal ini akan ditiru. Melihat akhlakpun sanggup menjadikan hati
para ulama menjadi lembut. Imam Malik Rahimmahullah berkata, “ Setiap
kali saya merasakan hatiku mulai mengeras maka saya segera mendatangi Muhammad
bin Al Munkadir. Tidak sedikit orang-orang shaleh berkumpul di sekelilingnya
untuk memetik arahan dan percikan keshalehannya (Akhlak), lalu saya
memandangnya. Hal itu menjadi bekal dan nasihat bagiku selama berhari-hari” (Akhlak
ulama salaf dalam bergaul, Hal.11)
Sungguh banyak sekali
cerita-cerita ulama salaf tentang kilaunya akhlak mereka, Hal ini terjadi bukan
tidak lain mereka begitu perhatian mereka dengan akhlak mereka. Sembari mereka
menuntut ilmu mereka tidak lupa untuk belajar adab dan akhlak.
Bagaimana kabar akhlak
sekarang ini?
Tak dapat dipungkiri
kembali keluhuran akhlak yang telah diajarkan rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, para sahabat, dan
para ulama salaf kini mulai meluntur. Meluntur digerus oleh kemajuan zaman.
Orang-orang telah sibuk dengan gadget daripada teman yang disampingnya,
ketika teman chatting lebih asyik daripada teman ngobrol. Ketika
membaca cerita-cerita mulianya akhlak ulama salaf sudah hanya dianggap kiasan
belaka sekarang. Memang bukan hal mustahil mungkin masih ada orang di kolong
langit yang seperti mereka hingga sekarang ini tapi mungkin jumlahnya juga
sudah minoritas. Terutama untuk kalangan penuntut ilmu atau yang notabenenya
sudah ngaji. Sangat berbeda sekali dengan para penuntut ilmu zaman
dahulu. Tidaklah usah jauh-jauh dengan para salaf yang begitu luar biasanya dengan
akhlaknya, para penuntut ilmu zaman sekarang dengan gurunya juga terkadang
tidak menunjukan akhlak baik. Ada juga yang sudah ngaji bertahun-tahun
tetapi sama tetangga tak pernah rukun, ada juga yang sudah ngaji ketemu
suadaranya tak pernah memberi salam, senyumpun jarang. Inikah kelembutan dalam
islam? Selembut inikah? Mungkin kita tak jumpai lembutnya islam kecuali dengan
orang-orang yang benar-benar mengerti dan mengamalkan akhlakul karimah,
janganlah kita kalah dengan orang-orang yang berjalan di atas kebatilan. Mereka
yang berada di atas kebatilan menarik simpati dengan baiknya akhlak mereka,
jadi jangan heran kalau kristenisasi sudah mulai digalakan dengan cara
lembut dan halus sehingga masyarakat menjadi tertarik. Kaum muslimin
bangkitlah, bangkitlah, bangkitlah dengan ilmu dan akhlak, karena Allah akan
tinggikan derajat dengan ilmu didukung dengan akhlak. Sungguh, hanya Allahlah
tempat bersandar dan tempat meminta agar kita diberikan keistiqomahan di atas
agama ini yang tak ada agama selain islam yang diterima olehNya.
Herbi
Yuliantoro
Pentingnya Niat
Kau tau berapa berat menjaga amalan kita agar tetap ikhlas? sungguh berat bahkan lebih baik membawa gunung dari pada membawa niat ikhlas dari setiap amalan, banyak dari kita niatnya lurus di awal tetapi tumbang ketika pas waktu beramal. Banyak juga dari kita awal niat sudah lurus, waktu mengamalkan juga lurus, tapi waktu akhir kita sebutkan satu persatu. Ada lagi awal sampai akhir kita bisa lurus tapi di lain waktu ia ungkit kembali maka lunturlah ikhlas itu, MasyaAllah para ulama salaf yang mereka perhatikan ialah niat dalam beramal mereka sangat serius dalam maslah niat, karena niat itu bisa lurus diawal tapi mudah tumbang di jalan, mereka serius dalam niat, tapi kita? Semoga Allah selalu melindungi kita dari ini semua. Hanya kepada Allah lah kita berharap ridhoNya dan JannahNya
Herbi Yuliantoro
Herbi Yuliantoro
Langganan:
Komentar (Atom)
Total Tayangan Halaman
Pages
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2015
(9)
- ▼ 03/22 - 03/29 (1)
- ► 01/18 - 01/25 (7)
- ► 01/04 - 01/11 (1)
-
►
2014
(23)
- ► 11/23 - 11/30 (1)
- ► 11/09 - 11/16 (1)
- ► 07/13 - 07/20 (4)
- ► 07/06 - 07/13 (11)
- ► 06/29 - 07/06 (4)
- ► 06/22 - 06/29 (2)
-
►
2013
(2)
- ► 08/25 - 09/01 (1)
- ► 06/30 - 07/07 (1)


