Mereka berkata: Kasihan orang yang tidak paham Bahasa Inggris, nanti kesulitan memahami ucapan manusia.
Dan aku berkata: Kasihan orang yang tidak memahami Bahasa Arab, akan kesulitan memahami ucapan Rabbnya manusia.
Sumber: Sofyan Chalid
Minggu, 22 Maret 2015
Sabtu, 24 Januari 2015
Akhlakmu Perhiasanmu
Aklahkmu
Ialah Perhiasanmu
Berbicara tentang kelembutan dakwah dalam islam
pasti tak luput dengan namanya Akhlak. Lemah lembut dalam islam bukan berarti
islam itu tidak ada ketegasan. Tetapi sebisa mungkin islam mengajarkan kita
untuk adil menyikapi suatu masalah, haruskah dengan tas atau dengan lembutlah
kita menyikapinya. Tentang akhlak, sudah banyak orang mengetahui betapa
pentingnya akhlak di dalam kehidupan bermasyarakat. Ibarat sebuah mobil atau
motor yang sedang melaju dijalanan, semua hal yang akan terjadi tergantung pada
pengemudinya. Nah, pengemudi tersebut ibarat
kata adalah akhlak kita, jika pengemudinya tak karuan, ugal-ugalan otomatis
akan lebih banyak menanggung resiko di perjalanan, begitupun akhlak kita
dimasyarakat sekaya apapun orang jika akhlaknya buruk maka masyarakat akan
banyak yang tidak suka padanya, seberapapun tinggi pendidikan seseorang jika
akhlaknya buruk maka tak akan berguna di masyarakat, begitupun dengan orang
yang berilmu atau seorang ulama jika dia berakhlak buruk maka tidak manfaatlah
ilmu tersebut. Islam dan akhlak adalah sesuatu yang tidak terpisahkan, bisa
dipastikan jika di baik dalam keislamannya pasti baik pula akhlaknya dan
begitupun sebaliknya jika orang buruk akhlaknya maka hal ini adalah tidak
terlepas dari buruknya pemahamannya terhadap islam.
Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).
Akhlak zaman jahiliah
dahulunya sangatlah kejam dimana bayi perempuan dikubur hidup-hidup, perzinaan
meraja lela, sesembahan berhala menjadi rutinitas ibadah mereka, meminum khamr
dan masih banyak maksiat-maksiat yang tersebar dimasa tersebut. Sungguh zaman
yang penuh dengan kegelapan dan akhirnya islam membawa zaman jahiliah tersebut
menjadi zaman yang penuh dengan keindahan akhlak Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam yang kini sudah jarang kita lihat keindahan akhlak dalam
islam ini. Agama ini sangat mengajarkan kita untuk selalu berakhlak baik, entah
kepada siapapun itu, jangankan kepada manusia dengan hewanpun kita dituntut
untuk berbuat baik padanya.
Eratnya ilmu dengan
akhlak
Zakariya Al-Anbari rahimmahullahu
berkata, “Ilmu tanpa adab tak ubahnya api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu
laksana ruh tanpa jasad.”(Akhlak ulama salaf dalam bergaul, Hal. 5)
Ilmu dan akhlak keduanya sangat penting dalam
jiwa dan kehidupan kita sehari-hari namun perlu diketahui bahwa bagaimanapun
juga akhlak itu kedudukannya lebih tinggi dari ilmu, salah
satu contoh saja jika seseorang punya ilmu yang teramat sangat tinggi tak ada
arti sama sekali jika akhlaknya nol besar mau dibawa kearah yang mana ilmu itu.
Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhias dengan sifat Akhlakul
karimah karena ia merupakan bagian dari sifat-sifat yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Bukan berarti pula kita hanya berakhlak baik
saja tetapi tidak berilmu hal ini juga tidak disukai oleh Allah Ta’ala. Dengan
akhlakul karimah pula merupakan sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci
kebaikan dan keutamaan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki akhlakul karimah,
maka ia tidak akan bisa meraih berbagai kebaikan dan keutamaan. Diantara
keutamaan yang paling agung adalah seperti yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dalam sebuah
hadist.
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam
timbangan seorang mukmin pada hari Kiamat daripada akhlak yang baik dan
sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” (HR.
Tirmidzi, derajat: shahih)
Ilmu adalah sebuah bongkahan permata di dasar laut, sedangkan
akhlak adalah pancaran keindahannya. Ketika sebuah permata tersebut kehilangan
pancaran keindahannya, bagaimana mungkin perhiasan tersebut menarik hati
manusia untuk memilikinya apalagi permata tersebut di dalam laut. Begitupun
sebaliknya, pancaran keindahan tanpa berwujud dalam intan permata adalah
fatamorgana yang hanya indah dalan mata manusia, sekejap akan lenyap dengan
satu kerdipan mata. Sebagaimana manusia padahal ilmu itu tersimpan di dalam
dada mereka, jika tanpa akhlakul karimah tak akan sampailah dakwah itu di hati
manusia, pun jika mereka punya akhlakul karimah tapi tidak memiliki ilmu sama
saja kebaikannya adalah semu belaka.
Perhatian
ulama salaf terhadap akhlak
Imam Sufyan ats-Tsauri berkata “Mereka tidak menyuruh/mengirimkan
anak-anak mereka untuk menuntut ilmu, hingga mereka mempelajari adab dan
beribadah selama 20 tahun”. Beliau juga mengatakan, “Adab itu 2/3 ilmu.” (Adab
dan Akhlak Penuntut Ilmu,
Hal. 30)
Begitupun kisah dari Ali
bin Al-Madini yang mengakui bahwa banyak orang yang hadir dimajelis Yahya bin
Sa’id Al-Qathan, mereka semua tidak bermaksud mendengar banyaknya ilmu, akan
tetapi hanya ingin melihat dan belajar akhlak dan adab darinya. (Akhlak
ulama salaf dalam bergaul, Hal.6)
Tidak dapat dipungkiri
kembali, bahwasannya kaum muslimin terdahulu banyak sekali mengambil manfaat
dengan melihat dan memandang para ulamanya semasa mereka, oleh karena itu
banyak dari kalangan mereka menjadi pribadi yang beradab. Bahkan karena akhlak
pulalah dakwah islam menjadi menggema dimana-mana, sampai-sampai banyak orang
yang datang dari jauh hanya untuk melihat bagaimana akhlak ulama pada semasanya
dan nantinya hal ini akan ditiru. Melihat akhlakpun sanggup menjadikan hati
para ulama menjadi lembut. Imam Malik Rahimmahullah berkata, “ Setiap
kali saya merasakan hatiku mulai mengeras maka saya segera mendatangi Muhammad
bin Al Munkadir. Tidak sedikit orang-orang shaleh berkumpul di sekelilingnya
untuk memetik arahan dan percikan keshalehannya (Akhlak), lalu saya
memandangnya. Hal itu menjadi bekal dan nasihat bagiku selama berhari-hari” (Akhlak
ulama salaf dalam bergaul, Hal.11)
Sungguh banyak sekali
cerita-cerita ulama salaf tentang kilaunya akhlak mereka, Hal ini terjadi bukan
tidak lain mereka begitu perhatian mereka dengan akhlak mereka. Sembari mereka
menuntut ilmu mereka tidak lupa untuk belajar adab dan akhlak.
Bagaimana kabar akhlak
sekarang ini?
Tak dapat dipungkiri
kembali keluhuran akhlak yang telah diajarkan rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, para sahabat, dan
para ulama salaf kini mulai meluntur. Meluntur digerus oleh kemajuan zaman.
Orang-orang telah sibuk dengan gadget daripada teman yang disampingnya,
ketika teman chatting lebih asyik daripada teman ngobrol. Ketika
membaca cerita-cerita mulianya akhlak ulama salaf sudah hanya dianggap kiasan
belaka sekarang. Memang bukan hal mustahil mungkin masih ada orang di kolong
langit yang seperti mereka hingga sekarang ini tapi mungkin jumlahnya juga
sudah minoritas. Terutama untuk kalangan penuntut ilmu atau yang notabenenya
sudah ngaji. Sangat berbeda sekali dengan para penuntut ilmu zaman
dahulu. Tidaklah usah jauh-jauh dengan para salaf yang begitu luar biasanya dengan
akhlaknya, para penuntut ilmu zaman sekarang dengan gurunya juga terkadang
tidak menunjukan akhlak baik. Ada juga yang sudah ngaji bertahun-tahun
tetapi sama tetangga tak pernah rukun, ada juga yang sudah ngaji ketemu
suadaranya tak pernah memberi salam, senyumpun jarang. Inikah kelembutan dalam
islam? Selembut inikah? Mungkin kita tak jumpai lembutnya islam kecuali dengan
orang-orang yang benar-benar mengerti dan mengamalkan akhlakul karimah,
janganlah kita kalah dengan orang-orang yang berjalan di atas kebatilan. Mereka
yang berada di atas kebatilan menarik simpati dengan baiknya akhlak mereka,
jadi jangan heran kalau kristenisasi sudah mulai digalakan dengan cara
lembut dan halus sehingga masyarakat menjadi tertarik. Kaum muslimin
bangkitlah, bangkitlah, bangkitlah dengan ilmu dan akhlak, karena Allah akan
tinggikan derajat dengan ilmu didukung dengan akhlak. Sungguh, hanya Allahlah
tempat bersandar dan tempat meminta agar kita diberikan keistiqomahan di atas
agama ini yang tak ada agama selain islam yang diterima olehNya.
Herbi
Yuliantoro
Pentingnya Niat
Kau tau berapa berat menjaga amalan kita agar tetap ikhlas? sungguh berat bahkan lebih baik membawa gunung dari pada membawa niat ikhlas dari setiap amalan, banyak dari kita niatnya lurus di awal tetapi tumbang ketika pas waktu beramal. Banyak juga dari kita awal niat sudah lurus, waktu mengamalkan juga lurus, tapi waktu akhir kita sebutkan satu persatu. Ada lagi awal sampai akhir kita bisa lurus tapi di lain waktu ia ungkit kembali maka lunturlah ikhlas itu, MasyaAllah para ulama salaf yang mereka perhatikan ialah niat dalam beramal mereka sangat serius dalam maslah niat, karena niat itu bisa lurus diawal tapi mudah tumbang di jalan, mereka serius dalam niat, tapi kita? Semoga Allah selalu melindungi kita dari ini semua. Hanya kepada Allah lah kita berharap ridhoNya dan JannahNya
Herbi Yuliantoro
Herbi Yuliantoro
Jumat, 23 Januari 2015
Rapat Kajian
HASIL RAPAT TANGGAL 3 JANUARI 2015
Kajian 1
Daurah pembukaan
Acara :
Ahad, 11 Januari 2015
Pemateri :
Ust. M Abdul Tuasikal
Tempat :
MPR
Panitia Kajian :
1.
Seksi Acara dan Perekam : Ridho
2.
Pengantar dan pendamping : Feri
3.
Konsumsi dan bendahara : Deni dan Johan
4.
Perlengkapan dan parkir : Agung dan Fahmi
Kajian 2
Acara :
Ahad, 18 Januari 2015
Pemateri :
Ust. Afifi
Tempat :
MPR
Panitia Kajian :
1.
Seksi Acara dan Perekam : Evan
2.
Pengantar dan pendamping : Feri
3.
Konsumsi dan bendahara : Ahmad dan Herbi
4.
Perlengkapan dan parkir : Gian dan Azmi
Kajian 3
Acara :
Senin, 26 Januari 2015
Pemateri :
Ust. Zaid Susanto
Tempat :
MPD
Panitia Kajian :
1.
Seksi Acara dan Perekam : Danur
2.
Pengantar dan pendamping : Sigit
3.
Konsumsi dan bendahara : Ifan dan Said
4.
Perlengkapan dan parkir : Wahyu dan Fahmi
Kajian 4
Acara :
Selasa, 27 Januari 2015
Pemateri :
Ust. Zainuddin
Tempat :
MPD
Panitia Kajian :
1.
Seksi Acara dan Perekam : Ridho
2.
Pengantar dan pendamping : Evan
3.
Konsumsi dan bendahara : Deni dan Johan
4.
Perlengkapan dan parkir : Azmi dan Said
Kajian 5
Acara :
Rabu, 28 Januari 2015
Pemateri :
Ust. Abu Sa’ad
Tempat :
Masjid Al Ashri
Panitia Kajian :
1.
Seksi Acara dan Perekam : Danur
2.
Pengantar dan pendamping : Sigit
3.
Konsumsi dan bendahara : Ahmad dan Herbi
4.
Perlengkapan dan parkir : Gian, Ifan/Wahyu
Kajian 6
Acara :
Kamis, 29 Januari 2015
Pemateri :
Ust. Aris Munandar
Tempat :
MPR
Panitia Kajian :
1.
Seksi Acara dan Perekam : Ridho
2.
Pengantar dan pendamping : Evan
3.
Konsumsi dan bendahara : Deni dan Ahmad
4.
Perlengkapan dan parkir : Fahmi dan Danur
Kajian Akbar
Acara :
Ahad, 25 Januari 2015
Pemateri :
Ust. Firanda Andirja, Lc., MA
Tempat :
Masjid Kampus UGM
Seksi Acara dan Perekam :
Feri
Konsumsi dan bendahara :
Ahmad (Koordinator), Herbi, Deni, dan Johan
Perlengkapan dan parkir :
Danur (Koordinator)
Parkir
Ustad : Said
Parkir
Ikhwan (kanan) : Sigit dan Ridho
Parkir
Akhwat (kiri) : Evan dan Fahmi
Parkir
Mobil : Ivan dan
Wahyu
Catatan Penting untuk kajian tematik:
1.
Tugas tambahan konsumsi
adalah memberikan snack bagi ustad dan pendamping, selanjutnya memberikan makan
besar untuk panitia dan ustad. Antara ustad dan panitia dibedakan boxnya saja.
2.
Siapkan 1 bingkisan untuk
ustad
3.
Perkap menjalankan tugas
mengedarkan kotak infak, menyiapkan meja dan mengkondisikan parkir
Kamis, 22 Januari 2015
Malam Lailatul Qadar
Assalamu'alaikum.... Salamku Wajib Jawab Untukmu smile emoticon
Akhi wa ukhti, pandanglah ke langit sana. Bertebaran bintang sangat sempurna. Tak ada cela maupun cacat, tiada kata langit ini rusak tanpa kehendakNya. Malam ini begitu indah, malam dimana kita menyongsong malam lailatul qadar. Lailatul Qadar. Bukan sembarang malam, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS Ad Dukhoon: 3 - 6]
Terbesit dalam hatiku, apakah aku sudah pernah mendapatkan ibadah di malam penuh kemuliaan itu? Malam yang harus kita gunakan untuk bermunajat sebenar-benarnya munajat, berdo'a sebenar-benarnya berdo'a, bukan hanya omongan belaka yang aku lakukan bukan hanya hal yang tidak ada manfaatnya yang aku lakukan. Yaa Rabb, Malam itu begitu istimewa tetapi apakah aku pernah hadir dalam kondisi menangis beribadah menangis karena banyaknya dosa, memohon ampun memohon belas kasihMu untuk dimasukkan kedalam JannahMu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, Ya Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wassalam), Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?”. Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”. (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali.)
Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thyalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
Rasanya aku tak pantas melewati malam itu untuk tahun ini, tak pantas untuk dilewatkan dengan hal sia-sia, begitupun dirimu akhi wa ukhti. Kau harus lebih dariku. Kau harus lebih bergegas dariku, kumpulkan kekuatanmu, sambutlah malam itu dengan penuh persiapan, semoga Allah mengabulkan hajatmu.
Semoga Allah Jalla Jalaaluh mengampuni dosaku dan dosamu, Semoga kita bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, Semoga kita bertemu di JannahNya, Allahumma Aamiin
Mengutip perkataan Imam Hasan Al Bashri Rahimmahullah:
“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(15 Juli 2014, Al Akh Herbi)
Akhi wa ukhti, pandanglah ke langit sana. Bertebaran bintang sangat sempurna. Tak ada cela maupun cacat, tiada kata langit ini rusak tanpa kehendakNya. Malam ini begitu indah, malam dimana kita menyongsong malam lailatul qadar. Lailatul Qadar. Bukan sembarang malam, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS Ad Dukhoon: 3 - 6]
Terbesit dalam hatiku, apakah aku sudah pernah mendapatkan ibadah di malam penuh kemuliaan itu? Malam yang harus kita gunakan untuk bermunajat sebenar-benarnya munajat, berdo'a sebenar-benarnya berdo'a, bukan hanya omongan belaka yang aku lakukan bukan hanya hal yang tidak ada manfaatnya yang aku lakukan. Yaa Rabb, Malam itu begitu istimewa tetapi apakah aku pernah hadir dalam kondisi menangis beribadah menangis karena banyaknya dosa, memohon ampun memohon belas kasihMu untuk dimasukkan kedalam JannahMu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, Ya Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wassalam), Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?”. Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”. (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali.)
Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thyalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
Rasanya aku tak pantas melewati malam itu untuk tahun ini, tak pantas untuk dilewatkan dengan hal sia-sia, begitupun dirimu akhi wa ukhti. Kau harus lebih dariku. Kau harus lebih bergegas dariku, kumpulkan kekuatanmu, sambutlah malam itu dengan penuh persiapan, semoga Allah mengabulkan hajatmu.
Semoga Allah Jalla Jalaaluh mengampuni dosaku dan dosamu, Semoga kita bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, Semoga kita bertemu di JannahNya, Allahumma Aamiin
Mengutip perkataan Imam Hasan Al Bashri Rahimmahullah:
“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(15 Juli 2014, Al Akh Herbi)
Rabu, 21 Januari 2015
Agama adalah Nasihah
Agama ini adalah nasihat, begitu sempurnanya agama ini, hingga menjadikan si maksiat menjadi si taubat, si pezina menjadi si penentang zina, si penolak kebenaran manjadi si lembut penerima kebenaran, adakah yang lebih sempurna dari islam?
“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)
Sungguh hanya agama islamlah yang diridhoi oleh Allah, tak ada lagi agama yang diterima selain islam. Umar Bin Khattab radhiallahu'anhu pernah berkata, "Dulu kita termasuk kaum yang hina, lalu Allah memuliakan kita dengan islam, barangsiapa yang mencari selain islam maka Allah akan hinakan kita"
Secara umum memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain.
Al Khaththabi mengatakan: Nasihat adalah sebuah kalimat yang luas cakupan maknanya. Maknanya adalah menghendaki kebaikan bagi orang yang diberi nasehat. Dikatakan pula bahwa kata nasihat diambil dari kalimat
نصح الرجل ثوبه إذا خاطه
(seorang laki-laki menjahit pakaiannya).
Seseorang yang memberi nasihat diserupakan dengan orang yang menjahit pakaian karena orang yang memberi nasehat kepada orang lain pada hakikatnya adalah memperbaiki orang yang dinasehati, demikian orang yang menjahit baju yang berlubang (ia memperbaiki lubang yang terdapat pada baju tersebut). (Asy-Syarhul Kabiir ‘alal arba’in an nawawiyyah, 183)
Islam adalah agama nasihah tapi kenapa kadang nasihat itu tidak diterima, kebanyakan dari kita tidak faham cara menasehati itu seperti apa. Hal inilah yang merusak citra islam. Adakah islam mengajarkan umatnya untuk melakukan bom bunuh diri kepada kaum kafir yang tak memerangi? Adakah islam yang mengajarkan memerangi terhadap ulil amri yang masih mengizinkan kita sholat?Apakah islam mengajarkan kita untuk seperti itu?
Tidak saudaraku, Wallahi islam itu agama yang indah, agama yang penuh berkah, mengajari kita untuk menyayangi, mengasihi. Teruslah berdakwah dengan lemah lembut dengan ilmu, biarkan banyak cemooh untukmu, Allah-lah tempat bersandar semua keluh kesahmu, ikhlas karena Allahlah tujuanmu.
Semoga Allah pertemukan kita disurga Firdaus, surga tertinggi, InsyaAllah.
Rujukan: Muslim.or.id
___________
Hamba yang berharap AmpunanNya
Abu Abdillah Herbi
“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)
Sungguh hanya agama islamlah yang diridhoi oleh Allah, tak ada lagi agama yang diterima selain islam. Umar Bin Khattab radhiallahu'anhu pernah berkata, "Dulu kita termasuk kaum yang hina, lalu Allah memuliakan kita dengan islam, barangsiapa yang mencari selain islam maka Allah akan hinakan kita"
Secara umum memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain.
Al Khaththabi mengatakan: Nasihat adalah sebuah kalimat yang luas cakupan maknanya. Maknanya adalah menghendaki kebaikan bagi orang yang diberi nasehat. Dikatakan pula bahwa kata nasihat diambil dari kalimat
نصح الرجل ثوبه إذا خاطه
(seorang laki-laki menjahit pakaiannya).
Seseorang yang memberi nasihat diserupakan dengan orang yang menjahit pakaian karena orang yang memberi nasehat kepada orang lain pada hakikatnya adalah memperbaiki orang yang dinasehati, demikian orang yang menjahit baju yang berlubang (ia memperbaiki lubang yang terdapat pada baju tersebut). (Asy-Syarhul Kabiir ‘alal arba’in an nawawiyyah, 183)
Islam adalah agama nasihah tapi kenapa kadang nasihat itu tidak diterima, kebanyakan dari kita tidak faham cara menasehati itu seperti apa. Hal inilah yang merusak citra islam. Adakah islam mengajarkan umatnya untuk melakukan bom bunuh diri kepada kaum kafir yang tak memerangi? Adakah islam yang mengajarkan memerangi terhadap ulil amri yang masih mengizinkan kita sholat?Apakah islam mengajarkan kita untuk seperti itu?
Tidak saudaraku, Wallahi islam itu agama yang indah, agama yang penuh berkah, mengajari kita untuk menyayangi, mengasihi. Teruslah berdakwah dengan lemah lembut dengan ilmu, biarkan banyak cemooh untukmu, Allah-lah tempat bersandar semua keluh kesahmu, ikhlas karena Allahlah tujuanmu.
Semoga Allah pertemukan kita disurga Firdaus, surga tertinggi, InsyaAllah.
Rujukan: Muslim.or.id
___________
Hamba yang berharap AmpunanNya
Abu Abdillah Herbi
Senin, 19 Januari 2015
Belajar Lagi Belajar Lagi...
Saudaraku, pasti kebanyakan dari kita pernah belajar menaiki sepeda. Ya kan? Lalu apa yang kita alami dalam masa belajar itu? Apakah seketika itu juga kita langsung bisa naik sepeda, ataukah kita harus jatuh bangun agar bisa mencapai keinginan kita, yaitu bisa bersepeda berkeliling2 perumahan?
Semua kita pasti sepakat, bahwa bila kita sedang belajar naik sepeda, pasti akan jatuh. Entah sekali, 2 kali, 3 kali, atau bahkan berkali-kali. Tapi, apakah itu semua menghalangi kita untuk bisa menaiki sepeda? Tentu saja itu semua tidak menyurutkan langkah kita untuk terus belajar mengkayuh sepeda kita agar bisa menaikinya.
Sebagaimana permisalan di atas, adalah permisalan kita dalam menuntut ilmu syar'i. Dalam kita mempelajari ilmu syar'i sudah barang tentu kita akan mengalami berbagai macam halang dan rintang. Dari mulai sulitnya niat untuk menghadiri pengajian, lalu sulit menghapalnya, lalu sulit mengamalkannya, dan kesulitan2 yang lain.
Tapi, akankah kita mengurungkan niat dan langkah kita untuk menuntutnya? Atau akhirnya kita menyerah untuk mendapatkannya?
Jikalau begitu, maka ingatlah filosofi sepeda di atas. Seorang penuntut ilmu pasti akan mengalami kesulitan, akan tetapi, ia harus berjuang sekuat tenaga untuk mampu menghadapinya.
Cukuplah teguhnya pendirian Rasulallah shalallahu'alaihi wa sallam kita jadikan contoh. Di kala beliau tidak diterima di Thaif, di musuhi oleh pamannya, dan banyak lagi kisah pilu yang beliau alami.
Lantas, surutkah langkah kita untuk menapaki jalan dakwah beliau dengan mendatangi majlis ilmu? Atau sudah beratkah tubuh kita untuk mendapatkan harta warisan beliau yang paling berharga? Atau mungkin sudah keraskah hati kita untuk mendengarkan nasihat2 emas beliau?
Maka sebagaimana Ibnu Qayyim -Rahimahullah- berkata mengenai cara mencari hati, beliau menjawab, carilah hati tersebut di 3 tempat, yang salah satunya adalah di majelis ilmu Syar'i. Oleh karena itu, Hendaklah kita mencari hati kita disana apabila hati kita sudah mulai keras membatu.
Semoga Allah memudahkan langkah kaki kita, meringankan badan kita, dan melunakkan hati kita untuk mendatangi taman2 surga yang terhampar luas di dunia, yaitu majelis ilmu, sebelum kita mendatangi taman-taman surga yang sebenarnya di surga Allah yang kekal abadi.
Ust. Seno
Ust. Seno
Nilaiku Jelek
Saat itu, di kelas, syaikh mengisahkan bahwa ada seorang pelajar di Saudi memperoleh nilai yang rendah dalam pelajaran menulis. Teman-temannya yang lain menertawakan tulisannya yang memang tidak bagus.
Libur sekolah baru saja berlalu. Ketika kelas dimulai, sang guru kini heran. Tulisan tangan muridnya itu menjadi tulisan indah bahkan menjadi tulisan terindah dibanding tulisan teman-temannya.
Sang guru bertanya:
“Masya Allah, kok bisa tulisanmu bagus seperi ini?"
Siswa tersebut pun menjawab:
“Ayahku marah melihat nilaiku dalam pelajaran menulis. Lantas, ketika liburan kemarin, beliau memberiku hukuman yaitu menyalin seluruh isi al-Qur-an secara sempurna. Aku pun mengikuti perintahnya.”
Begitulah jika anda ingin melihat perubahan tulisan berbahasa arab anda maka kuncinya adalah membiasakan diri. Penyalinan mus-haf al-Qur-an bukan karena dzat al-Qur-an itu sendiri namun lebih ditinjau dari sudut pembiasaan tangan untuk bergerak.
Ini bisa dijadikan rutinitas harian. Misalnya dengan menulis atau menyalin satu atau setengah halaman al-Qur-an per hari. Satu halaman ini bisa dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama diselesaikan di pagi hari dan bagian yang lain diselesaikan sore atau malam hari.
Sebenarnya tak mesti al-Qur-an. Ada banyak sesuatu untuk bisa ditulis atau tepatnya disalin misalnya kitab-kitab para ulama. Intinya ada satu salinan teks perhari. Jangan lupa pula menulis tanggal penyalinan di lembaran hasil salinan.
Ust. Fahri
Ust. Fahri
Pogung Dalangan, Yogyakarta. 05 Dzulhijjah 1434 H/10 Okt. 2013
Selasa, 06 Januari 2015
Meniru Ulama Salaf?
Assalamu'alaikum...
Lama sekali saya sudah tidak menulis. Rasanya kaku sekali tangan ini untuk merangkai kata demi kata. Entah, ada apa dengan aku ini, sepi yang tak pernah ada ujungnya. Hanya untaian maksiat yang ada di liang otak ini. Ah, aku banyak sekali ruginya. Rugi waktu, rugi harta. Rugi harta, udah ngabisin duit orang tua tapi aku sia-siakan dengan nilai apa adanya, Ya Rabb, Apa sih gunanya hidupku jika aku terus saja bermaksiat seperti ini?.
Dulu banyak sekali prestasiku di bidang akademik, tapi sekarang boro-boro saya dapat nilai bagus. Pokoknya yang pernah seperti aku kudu cepet berubah sebelum kehidupan selanjutnya mencengkram hidupmu.
Coba baca kisah ini sebentar
Abul Hasan Bunan bin Muhammad bin Hamdan adalah salah seorang ulama yang dikenal banyak memiliki karomah. Suatu saat karena dia berani mengingkari Ibnu Thulun, maka dia dihukum dan dicampakkan di depan singa. Sang singa pun menciuminya tetapi anehnya dia tidak menerkam Abul Hasan. Akhirnya, dia pun dibebaskan. Orang-orang merasa heran dengan kejadian tersebut. Seorang pernah bertanya kepada beliau: “Bagaimana perasaan Anda tatkala berada di depan singa?” Beliau menjawab: “Saya tidak cemas sama sekali, bahkan saat itu saya sedang memikirkan tentang air liur binatang buas serta perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fiqih, apakah suci ataukah najis!!!” (al-Bidayah wa Nihayah 12/158 oleh Ibnu Katsir)
Betapa pedulinya para ulama dengan ilmu, la aku? pokoknya aku kudu berubah! Aku kudu belajar yang lebih rajin, semangat :)
Lama sekali saya sudah tidak menulis. Rasanya kaku sekali tangan ini untuk merangkai kata demi kata. Entah, ada apa dengan aku ini, sepi yang tak pernah ada ujungnya. Hanya untaian maksiat yang ada di liang otak ini. Ah, aku banyak sekali ruginya. Rugi waktu, rugi harta. Rugi harta, udah ngabisin duit orang tua tapi aku sia-siakan dengan nilai apa adanya, Ya Rabb, Apa sih gunanya hidupku jika aku terus saja bermaksiat seperti ini?.
Dulu banyak sekali prestasiku di bidang akademik, tapi sekarang boro-boro saya dapat nilai bagus. Pokoknya yang pernah seperti aku kudu cepet berubah sebelum kehidupan selanjutnya mencengkram hidupmu.
Coba baca kisah ini sebentar
Abul Hasan Bunan bin Muhammad bin Hamdan adalah salah seorang ulama yang dikenal banyak memiliki karomah. Suatu saat karena dia berani mengingkari Ibnu Thulun, maka dia dihukum dan dicampakkan di depan singa. Sang singa pun menciuminya tetapi anehnya dia tidak menerkam Abul Hasan. Akhirnya, dia pun dibebaskan. Orang-orang merasa heran dengan kejadian tersebut. Seorang pernah bertanya kepada beliau: “Bagaimana perasaan Anda tatkala berada di depan singa?” Beliau menjawab: “Saya tidak cemas sama sekali, bahkan saat itu saya sedang memikirkan tentang air liur binatang buas serta perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fiqih, apakah suci ataukah najis!!!” (al-Bidayah wa Nihayah 12/158 oleh Ibnu Katsir)
Betapa pedulinya para ulama dengan ilmu, la aku? pokoknya aku kudu berubah! Aku kudu belajar yang lebih rajin, semangat :)
Langganan:
Komentar (Atom)
Total Tayangan Halaman
Pages
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2015
(9)
- ▼ 03/22 - 03/29 (1)
- ► 01/18 - 01/25 (7)
-
►
2014
(23)
- ► 11/23 - 11/30 (1)
- ► 11/09 - 11/16 (1)
- ► 07/13 - 07/20 (4)
- ► 07/06 - 07/13 (11)
- ► 06/29 - 07/06 (4)
- ► 06/22 - 06/29 (2)
-
►
2013
(2)
- ► 08/25 - 09/01 (1)
- ► 06/30 - 07/07 (1)






