Selasa, 06 Januari 2015

Meniru Ulama Salaf?

Assalamu'alaikum...

Lama sekali saya sudah tidak menulis. Rasanya kaku sekali tangan ini  untuk merangkai kata demi kata. Entah, ada apa dengan aku ini, sepi yang tak pernah ada ujungnya. Hanya untaian maksiat yang ada di liang otak ini. Ah, aku banyak sekali ruginya. Rugi waktu, rugi harta. Rugi harta, udah ngabisin duit orang tua tapi aku sia-siakan dengan nilai apa adanya, Ya Rabb, Apa sih gunanya hidupku jika aku terus saja bermaksiat seperti ini?.

Dulu banyak sekali prestasiku di bidang akademik, tapi sekarang boro-boro saya dapat nilai bagus. Pokoknya yang pernah seperti aku kudu cepet berubah sebelum kehidupan selanjutnya mencengkram hidupmu.


Coba baca kisah ini sebentar

Abul Hasan Bunan bin Muhammad bin Hamdan adalah salah seorang ulama yang dikenal banyak memiliki karomah. Suatu saat karena dia berani mengingkari Ibnu Thulun, maka dia dihukum dan dicampakkan di depan singa. Sang singa pun menciuminya tetapi anehnya dia tidak menerkam Abul Hasan. Akhirnya, dia pun dibebaskan. Orang-orang merasa heran dengan kejadian tersebut. Seorang pernah bertanya kepada beliau: “Bagaimana perasaan Anda tatkala berada di depan singa?” Beliau menjawab: “Saya tidak cemas sama sekali, bahkan saat itu saya sedang memikirkan tentang air liur binatang buas serta perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fiqih, apakah suci ataukah najis!!!” (al-Bidayah wa Nihayah 12/158 oleh Ibnu Katsir)

Betapa pedulinya para ulama dengan ilmu, la aku? pokoknya aku kudu berubah! Aku kudu belajar yang lebih rajin, semangat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Pages

Pages - Menu

Search