Sabtu, 24 Januari 2015

Akhlakmu Perhiasanmu

Aklahkmu Ialah Perhiasanmu
           
Berbicara tentang kelembutan dakwah dalam islam pasti tak luput dengan namanya Akhlak. Lemah lembut dalam islam bukan berarti islam itu tidak ada ketegasan. Tetapi sebisa mungkin islam mengajarkan kita untuk adil menyikapi suatu masalah, haruskah dengan tas atau dengan lembutlah kita menyikapinya. Tentang akhlak, sudah banyak orang mengetahui betapa pentingnya akhlak di dalam kehidupan bermasyarakat. Ibarat sebuah mobil atau motor yang sedang melaju dijalanan, semua hal yang akan terjadi tergantung pada pengemudinya. Nah, pengemudi tersebut ibarat kata adalah akhlak kita, jika pengemudinya tak karuan, ugal-ugalan otomatis akan lebih banyak menanggung resiko di perjalanan, begitupun akhlak kita dimasyarakat sekaya apapun orang jika akhlaknya buruk maka masyarakat akan banyak yang tidak suka padanya, seberapapun tinggi pendidikan seseorang jika akhlaknya buruk maka tak akan berguna di masyarakat, begitupun dengan orang yang berilmu atau seorang ulama jika dia berakhlak buruk maka tidak manfaatlah ilmu tersebut. Islam dan akhlak adalah sesuatu yang tidak terpisahkan, bisa dipastikan jika di baik dalam keislamannya pasti baik pula akhlaknya dan begitupun sebaliknya jika orang buruk akhlaknya maka hal ini adalah tidak terlepas dari buruknya pemahamannya terhadap islam.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).
Akhlak zaman jahiliah dahulunya sangatlah kejam dimana bayi perempuan dikubur hidup-hidup, perzinaan meraja lela, sesembahan berhala menjadi rutinitas ibadah mereka, meminum khamr dan masih banyak maksiat-maksiat yang tersebar dimasa tersebut. Sungguh zaman yang penuh dengan kegelapan dan akhirnya islam membawa zaman jahiliah tersebut menjadi zaman yang penuh dengan keindahan akhlak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang kini sudah jarang kita lihat keindahan akhlak dalam islam ini. Agama ini sangat mengajarkan kita untuk selalu berakhlak baik, entah kepada siapapun itu, jangankan kepada manusia dengan hewanpun kita dituntut untuk berbuat baik padanya.       
Eratnya ilmu dengan akhlak
Zakariya Al-Anbari rahimmahullahu berkata, “Ilmu tanpa adab tak ubahnya api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu laksana ruh tanpa jasad.”(Akhlak ulama salaf dalam bergaul, Hal. 5)
Ilmu dan akhlak keduanya sangat penting dalam jiwa dan kehidupan kita sehari-hari namun perlu diketahui bahwa bagaimanapun juga akhlak itu kedudukannya lebih tinggi dari ilmu, salah satu contoh saja jika seseorang punya ilmu yang teramat sangat tinggi tak ada arti sama sekali jika akhlaknya nol besar mau dibawa kearah yang mana ilmu itu. Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhias dengan sifat Akhlakul karimah karena ia merupakan bagian dari sifat-sifat yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Bukan berarti pula kita hanya berakhlak baik saja tetapi tidak berilmu hal ini juga tidak disukai oleh Allah Ta’ala. Dengan akhlakul karimah pula merupakan sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci kebaikan dan keutamaan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki akhlakul karimah, maka ia tidak akan bisa meraih berbagai kebaikan dan keutamaan. Diantara keutamaan yang paling agung adalah seperti yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadist.
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari Kiamat daripada akhlak yang baik dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, derajat: shahih)

Ilmu adalah sebuah bongkahan permata di dasar laut, sedangkan akhlak adalah pancaran keindahannya. Ketika sebuah permata tersebut kehilangan pancaran keindahannya, bagaimana mungkin perhiasan tersebut menarik hati manusia untuk memilikinya apalagi permata tersebut di dalam laut. Begitupun sebaliknya, pancaran keindahan tanpa berwujud dalam intan permata adalah fatamorgana yang hanya indah dalan mata manusia, sekejap akan lenyap dengan satu kerdipan mata. Sebagaimana manusia padahal ilmu itu tersimpan di dalam dada mereka, jika tanpa akhlakul karimah tak akan sampailah dakwah itu di hati manusia, pun jika mereka punya akhlakul karimah tapi tidak memiliki ilmu sama saja kebaikannya adalah semu belaka.
            Perhatian ulama salaf terhadap akhlak
                  Imam Sufyan ats-Tsauri berkata “Mereka tidak menyuruh/mengirimkan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu, hingga mereka mempelajari adab dan beribadah selama 20 tahun”. Beliau juga mengatakan, “Adab itu 2/3 ilmu.” (Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu, Hal. 30)
Begitupun kisah dari Ali bin Al-Madini yang mengakui bahwa banyak orang yang hadir dimajelis Yahya bin Sa’id Al-Qathan, mereka semua tidak bermaksud mendengar banyaknya ilmu, akan tetapi hanya ingin melihat dan belajar akhlak dan adab darinya. (Akhlak ulama salaf dalam bergaul, Hal.6)
Tidak dapat dipungkiri kembali, bahwasannya kaum muslimin terdahulu banyak sekali mengambil manfaat dengan melihat dan memandang para ulamanya semasa mereka, oleh karena itu banyak dari kalangan mereka menjadi pribadi yang beradab. Bahkan karena akhlak pulalah dakwah islam menjadi menggema dimana-mana, sampai-sampai banyak orang yang datang dari jauh hanya untuk melihat bagaimana akhlak ulama pada semasanya dan nantinya hal ini akan ditiru. Melihat akhlakpun sanggup menjadikan hati para ulama menjadi lembut. Imam Malik Rahimmahullah berkata, “ Setiap kali saya merasakan hatiku mulai mengeras maka saya segera mendatangi Muhammad bin Al Munkadir. Tidak sedikit orang-orang shaleh berkumpul di sekelilingnya untuk memetik arahan dan percikan keshalehannya (Akhlak), lalu saya memandangnya. Hal itu menjadi bekal dan nasihat bagiku selama berhari-hari” (Akhlak ulama salaf dalam bergaul, Hal.11)
Sungguh banyak sekali cerita-cerita ulama salaf tentang kilaunya akhlak mereka, Hal ini terjadi bukan tidak lain mereka begitu perhatian mereka dengan akhlak mereka. Sembari mereka menuntut ilmu mereka tidak lupa untuk belajar adab dan akhlak.



Bagaimana kabar akhlak sekarang ini?
Tak dapat dipungkiri kembali keluhuran akhlak yang telah diajarkan rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat, dan para ulama salaf kini mulai meluntur. Meluntur digerus oleh kemajuan zaman. Orang-orang telah sibuk dengan gadget daripada teman yang disampingnya, ketika teman chatting lebih asyik daripada teman ngobrol. Ketika membaca cerita-cerita mulianya akhlak ulama salaf sudah hanya dianggap kiasan belaka sekarang. Memang bukan hal mustahil mungkin masih ada orang di kolong langit yang seperti mereka hingga sekarang ini tapi mungkin jumlahnya juga sudah minoritas. Terutama untuk kalangan penuntut ilmu atau yang notabenenya sudah ngaji. Sangat berbeda sekali dengan para penuntut ilmu zaman dahulu. Tidaklah usah jauh-jauh dengan para salaf yang begitu luar biasanya dengan akhlaknya, para penuntut ilmu zaman sekarang dengan gurunya juga terkadang tidak menunjukan akhlak baik. Ada juga yang sudah ngaji bertahun-tahun tetapi sama tetangga tak pernah rukun, ada juga yang sudah ngaji ketemu suadaranya tak pernah memberi salam, senyumpun jarang. Inikah kelembutan dalam islam? Selembut inikah? Mungkin kita tak jumpai lembutnya islam kecuali dengan orang-orang yang benar-benar mengerti dan mengamalkan akhlakul karimah, janganlah kita kalah dengan orang-orang yang berjalan di atas kebatilan. Mereka yang berada di atas kebatilan menarik simpati dengan baiknya akhlak mereka, jadi jangan heran kalau kristenisasi sudah mulai digalakan dengan cara lembut dan halus sehingga masyarakat menjadi tertarik. Kaum muslimin bangkitlah, bangkitlah, bangkitlah dengan ilmu dan akhlak, karena Allah akan tinggikan derajat dengan ilmu didukung dengan akhlak. Sungguh, hanya Allahlah tempat bersandar dan tempat meminta agar kita diberikan keistiqomahan di atas agama ini yang tak ada agama selain islam yang diterima olehNya.


                                                                                                                        Herbi Yuliantoro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Pages

Pages - Menu

Search