Assalamu'alaikum.... Salamku Wajib Jawab Untukmu smile emoticon
Akhi wa ukhti, pandanglah ke langit sana. Bertebaran bintang sangat sempurna. Tak ada cela maupun cacat, tiada kata langit ini rusak tanpa kehendakNya. Malam ini begitu indah, malam dimana kita menyongsong malam lailatul qadar. Lailatul Qadar. Bukan sembarang malam, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS Ad Dukhoon: 3 - 6]
Terbesit dalam hatiku, apakah aku sudah pernah mendapatkan ibadah di malam penuh kemuliaan itu? Malam yang harus kita gunakan untuk bermunajat sebenar-benarnya munajat, berdo'a sebenar-benarnya berdo'a, bukan hanya omongan belaka yang aku lakukan bukan hanya hal yang tidak ada manfaatnya yang aku lakukan. Yaa Rabb, Malam itu begitu istimewa tetapi apakah aku pernah hadir dalam kondisi menangis beribadah menangis karena banyaknya dosa, memohon ampun memohon belas kasihMu untuk dimasukkan kedalam JannahMu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, Ya Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wassalam), Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?”. Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”. (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali.)
Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thyalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
Rasanya aku tak pantas melewati malam itu untuk tahun ini, tak pantas untuk dilewatkan dengan hal sia-sia, begitupun dirimu akhi wa ukhti. Kau harus lebih dariku. Kau harus lebih bergegas dariku, kumpulkan kekuatanmu, sambutlah malam itu dengan penuh persiapan, semoga Allah mengabulkan hajatmu.
Semoga Allah Jalla Jalaaluh mengampuni dosaku dan dosamu, Semoga kita bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, Semoga kita bertemu di JannahNya, Allahumma Aamiin
Mengutip perkataan Imam Hasan Al Bashri Rahimmahullah:
“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(15 Juli 2014, Al Akh Herbi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Total Tayangan Halaman
Pages
Pages - Menu
Blog Archive
-
▼
2015
(9)
- ► 03/22 - 03/29 (1)
- ▼ 01/18 - 01/25 (7)
- ► 01/04 - 01/11 (1)
-
►
2014
(23)
- ► 11/23 - 11/30 (1)
- ► 11/09 - 11/16 (1)
- ► 07/13 - 07/20 (4)
- ► 07/06 - 07/13 (11)
- ► 06/29 - 07/06 (4)
- ► 06/22 - 06/29 (2)
-
►
2013
(2)
- ► 08/25 - 09/01 (1)
- ► 06/30 - 07/07 (1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar